Versi Bahasa Indonesia English Version
 
Laskar Pelangi, Sebuah Perenungan Dunia pendidikan Indonesia
Wibisono S. Wardhono, ST
 
Tips dan Trik Menyusun Jadwal Pelajaran (Menggunakan aSc Timetables 2008)
Mr. Hariyanto, Drs
 
The Efforts to Prepare The School with International Standard in Indonesia
Mr. Hariyanto, Drs
 
Mr. Closstugutt
Mr. Hariyanto, Drs
 
Education for Unifying Diversity and Reducing Disparity
Mr. Hariyanto, Drs
 
Free and Open-Source Software (FOSS) pada Kurikulum Matapelajaran TI&K di Tingkat SMA
Wibisono S. Wardhono, ST
 
Kembali ke atas
Laskar Pelangi, Sebuah Perenungan Dunia pendidikan Indonesia
By Wibisono S. Wardhono, ST

Lisensi Dokumen:
Malang, 29 Oktober 2008. Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Jika kita berbicara mengenai booming film Indonesia, tentu kita tidak bisa melupakan film "Ada Apa dengan Cinta", sejak itu film-film bertema sejenis seolah-olah berlomba meraih simpati para penikmat film. Alih-alih meraup sukses, genre cinta-remaja malah memasuki titik jenuh. Hal ini semakin dibuktikan oleh kesuksesan film "Ayat-ayat Cinta", yang meskipun belum keluar dari tema cinta, menyuguhkan kenyataan bahwa film bergenre non-horor dan cinta-remaja bisa diterima oleh masyarakat.

Tepat di saat sebagian besar masyarakat Indonesia masih disibukkan dengan hiruk-pikuk Lebaran di tahun 2008, sebuah film baru hadir, berjudul "Laskar Pelangi", yang diangkat dari novel berjudul sama, karangan Andrea Hirata. Mengangkat tema kehidupan sekolah dan masa kecil sepuluh bocah penghuni Pulau Belitong (Belitung), novel maupun film tersebut meraih simpati yang sama besar, bila novelnya dicetak-ulang beberapa kali dan menjadi best-seller, filmnya pun meraih box-office.

Lantas apa kekuatan "Laskar Pelangi"? Seperti diakui oleh beberapa orang yang telah menyaksikan film maupun membaca novelnya, "Laskar Pelangi" menyajikan suatu tema yang berbeda, tidak berlebihan namun menyentuh perasaan, tidak menggurui namun memberikan pelajaran yang maknanya sangat mendalam. Cerita dimulai dengan usaha sebuah sekolah di wilayah Gantong, Pulau Belitong, dalam memperoleh minimal sepuluh siswa, sebagai syarat agar sekolah tersebut tetap dapat melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar. Singkat cerita akhirnya syarat terpenuhi ketika seorang anak berkebutuhan khusus mendaftar sebagai siswa SD tersebut.

Di sepanjang cerita, kita disuguhi oleh keikhlasan dua orang Guru, yang memiliki tekad tinggi untuk mendidik dan mencerdaskan, serta semangat sepuluh anak SD, dengan karakter dan latar belakang yang beragam. Keterbatasan materi dan fasilitas adalah suguhan sehari-hari yang harus mereka jalani, namun di balik seluruh keterbatasan itu, mereka bisa tetap bersemangat dan meraih prestasi yang membanggakan.

Di sana tidak ada Guru yang memiliki fasilitas media pembelajaran tercanggih apalagi menerima tunjangan sertifikasi yang jumlah rapelannya selangit. Tidak ada pula siswa yang dimanja oleh fasilitas belajar mewah, apalagi sarana komunikasi tercanggih untuk sekedar bertanya PR hari ini. Kini di saat kita bergelimang fasilitas, pantaslah kita sedikit menunduk, malu, bila ternyata yang kita lakukan hanya terus mengeluh. Kita bisa mulai bergerak, mulai saat ini, untuk belajar dan mengajar dari satu titik awal, KEIKHLASAN.

 
Kembali ke atas
Tips dan Trik Menyusun Jadwal Pelajaran (Menggunakan aSc Timetables 2008)
By Mr. Hariyanto, Drs.

Lisensi Dokumen:
Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Download
- TIP_DAN_TRIK_MENYUSUN_JADUAL_PELAJARAN (RTF)

A.Pendahuluan
Menyusun jadual pelajaran adalah salah satu kegiatan dalam manajemen kurikulum di sekolah pada proses pengorganisasian (organizing). Pekerjaan tersebut umumnya dilakukan oleh petugas khusus penyusun jadual (di Sekolah Dasar), Seksi Kurikulum (di SMP), atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum (di SMA/SMK/MA). Jadual pelajaran berfungsi sebagai pedoman mengajar bagi guru dan pedoman belajar bagi siswa. Di dalam jadual pelajaran menjabarkan seluruh program pengajaran di sekolah, karena dengan melihat jadual pelajaran akan diketahui: (1) mata pelajaran apa yang akan diajarkan, (2) kapan pelajaran itu diajarkan, (3) di mana (ruang) pelajaran diajarkan, dan (4) siapa (guru) yang mengajar pada suatu kelas tertentu selama satu minggu.

 
Kembali ke atas
The Efforts to Prepare The School with International Standard in Indonesia
By Mr. Hariyanto, Drs.

Lisensi Dokumen:
Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Download
- School_with_International_Standard_rev (RTF)

A.Introduction
1. Background of Study
In the Law of National Education System of Indonesia No. 20 in 2003 section 50 verse 3 expressed "Government and or regional government carry out at least one school of all the education level to be developed become the international standard school". It is necessary to affirmed that to develop the School with International Standard (SIS), that still hold to develop the nation value and spirit of Indonesia, beside the developing of global progressively by introduction, recognition, and application of values that required global era, those are religion, science, technology, economy, art, solidarity, power, and global ethics. To support the global ethics, SIS use the global language especially English and use information communication technology (ICT).

 
Kembali ke atas
Mr. Closstugutt
By Mr. Hariyanto, Drs.

Lisensi Dokumen:
Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Mr. Closstugutt is our principal. He is a person who closed to friendship in his life, not only in saying but also in daily action or behavior. His presence in our school brings us to nightmare.
In saying, he is like a dumb and a deaf man. He is like a dumb man because he never says anything to everyone; teachers and officers in school. He never does something, because he always orders the teachers to serve him anything, for example, taking book and pencil or pen;; lunch; and other daily needs, although by little speaking. He will be angry with everyone, if no one obeys his order. He is like a deaf man because he never listens to everyone talking about anything. About deciding the solution, he never does anything, he never discusses the school programme with everyone, especially vice principals and teachers, so he leads school alike water flowing. We do not know where he brings our school.
In behavior, he acts as a wild giant, his face always grouchy to look at everyone, so teachers and officers always avoid meeting or facing him, They call him as the king of school or the ghost of school. His presence at school makes scared everyone. He never supports, praises, and relates or deals with everyone. He does not support anything the programme that the teachers suggest him. He is not in the same boat with us, he drives the school to anywhere what he wants, but actually he does not want anything. About appreciation of the job, we cannot differentiate which the god and bad job, because he never praises the good job of teachers or officers, but he always despises and condemns them. So we call him alike murderer who likes drinking blood of man. About relating to others, he never relates to people under his charge, he always considers us as foolish guys who cannot do something. In the other hand, he also never relates to colleagues, he never relates and deals with stakeholders in education, parents, communities, and alumni, so our school has not partnership with other institution.
Finally, our school is like a building in the jungle; no neighbors, no programme, no colleagues; no goals; no partnership; and no leader. But our school just has a ghost who called principal, his name is Mr. Closstugutt, a person who closed to friendship in his life.

 
Kembali ke atas
Education for Unifying Diversity and Reducing Disparity: Premisses Concerning the Influence of Technology to Indonesian Education System in 2020
By Mr. Hariyanto, Drs.
Quality Assurance
National Institute of Education-Nanyang Technological University Singapore

Lisensi Dokumen:
Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Download
- HIGHLIGHTING (RTF)

A.LOOKING FORWARD TO THE TECHNOLOGY IN EDUCATION ERA
The quality of education is hungering and expectation of all Indonesian societies as vehicle to produce the quality human resources that can compete globally. For achieving the condition, it needed the concrete and operational repair steps continually and continuation. The effort to realize the certifiable education need strategy and working together of the various and get support of the exact policy of government. It is necessary to build and give facility to the working together of inter schools, between schools and stakeholders, and the principal and all school components that can accelerate to achieve the certifiable education, that is: efforts to reduce the disparity of education quality especially the ability of students; competency of teachers; infrastructures; and acceptability of information.

 
Kembali ke atas
Free and Open-Source Software (FOSS) pada Kurikulum Matapelajaran TI&K di Tingkat SMA
By Wibisono Sukmo Wardhono, ST
disampaikan pada Seminar FOSS, 14 Juni 2008 di Perpustakaan Kota Malang

Lisensi Dokumen:
Malang, 10 Juni 2008. Sebagian maupun seluruh isi dokumen ini dapat disadur, disalin dan disebarluaskan untuk keperluan komersial maupun non-komersial tanpa harus izin kepada penulis dengan tetap mencantumkan nama penulis, sesuai ketentuan lisensi yang tersedia di http://www.fsf.org/licensing/licenses/fdl.html

Download
- Makalah (ODT)
- Presentasi (ODP)

Latar Belakang
Matapelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TI&K) telah masuk ke dalam kurikulum nasional mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas semenjak tahun 2004, yaitu pada saat diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan dilanjutkan pada Kurikulum 2006 atau yang jamak disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), hal ini tentunya menjadi sebuah langkah maju bagi dunia pendidikan di Indonesia untuk membekali para siswa dalam menghadapi era informasi yang semakin berkembang.

 
Home     |     Profil     |     Fasilitas     |     Link     |     Kontak  
Copyright © 2008. SMAN 3 Malang
Templates by Free CSS Templates, Graphic by Wahyu S. Rahmawan, Created and re-design by Wibisono S. Wardhono